PANJAGO: Menjembatani Tradisi dan Teknologi di Simposium PGVIS 2025

Dalam lanskap seni kontemporer yang terus berkembang, kolaborasi lintas budaya dan disiplin menjadi kunci dalam menciptakan karya yang relevan dan bermakna. Salah satu representasi kuat dari semangat ini hadir dalam Simposium Internasional Princess Galyani Vadhana Institute of Music 2025 di Bangkok, Thailand, melalui penampilan BEASTs of Wonderland yang menghadirkan karya multidisiplin dan imersif bertajuk PANJAGO: Body – Sound – Improvisation. Di antara para seniman dan akademisi yang terlibat, Rani Fitriana—yang dikenal juga sebagai Rani Jambak— PhD researcher projek Restituting, Reconnecting, Reimagining Sound Heritage (Re:Sound) mewakili Universitas Gadjah Mada dalam showcase dan sesi pleno yang berlangsung pada tanggal 20-23 Agustus 2025.

 

Tubuh sebagai Instrumen, Tradisi sebagai Narasi

PANJAGO bukan sekadar pertunjukan musik elektronik. Ia adalah dialog antara tubuh, suara, dan teknologi. Menggabungkan Silek—seni bela diri tradisional Minangkabau—dengan komposisi elektronik spasial dan live coding, karya ini mengeksplorasi bagaimana tubuh manusia dapat menjadi sumber bunyi yang bermakna. Dalam pertunjukan ini, sinyal gerakan dari tubuh Hario Efenur, peneliti dan praktisi body sound performance Silek dari ISI Surakarta, diolah secara real-time oleh Rani Jambak dan Scott Wilson dari Universitas Birmingham, menghasilkan improvisasi musikal yang adaptif dan reflektif.

Filosofi Silek “Sakali aia gadang, sakali tapian berubah” menjadi landasan konseptual karya ini. Adaptabilitas bukan hanya menjadi strategi artistik, tetapi juga pesan moral: bahwa manusia harus mampu merespons perubahan dengan kesadaran, kendali diri, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Sebelumnya, pertunjukan perdana PANJAGO dilaksanakan pada Mei lalu pada BEAST Feast 2025 di Universitas Birmingham melalui dukungan penuh British Council dalam program Connection Through Cuture.

 

Wonderland sebagai Ruang Eksperimen

Simposium PGVIS tahun ini mengangkat tema Wonderland, terinspirasi dari kisah Alice in Wonderland karya Lewis Carroll. Tema ini membuka ruang bagi eksplorasi artistik yang menantang batas-batas genre dan tradisi. BEASTs of Wonderland, sebagai bagian dari Birmingham ElectroAcoustic Sound Theatre (BEAST), menghadirkan karya-karya multimedia yang memanfaatkan sistem suara Woodbox untuk menciptakan pengalaman imersif.

Selain PANJAGO, konser ini juga menampilkan karya dari komposer BEAST seperti Annie Mahtani dan Christopher Haworth, serta penampilan tamu dari seniman Thailand Sippapas Thienwiwat. Sebuah karya kolaboratif yang mengeksplorasi tema Negeri Ajaib dari mahasiswa PGVIM dan Universitas Birmingham turut diputar perdana dalam konser ini.

 

Representasi UGM di Panggung Internasional

Kehadiran Rani Fitriana atau Rani Jambak dalam simposium ini tidak hanya memperkuat posisi Universitas Gadjah Mada sebagai institusi yang mendukung inovasi seni dan budaya, tetapi juga menunjukkan bagaimana pengetahuan lokal dapat diangkat ke ranah global melalui pendekatan interdisipliner. Keterlibatannya dalam showcase dan diskusi pleno memperlihatkan kapasitas akademisi UGM dalam menjembatani tradisi dan teknologi, serta membangun narasi yang relevan dengan tantangan zaman.

PANJAGO bukan hanya karya seni. Ia adalah pernyataan: bahwa warisan budaya bukanlah sesuatu yang statis, melainkan sumber daya hidup yang dapat terus diperbarui, direinterpretasi, dan dikomunikasikan. Sejalan dengan visi dari Re:Sound yang menginterpretasikan ulang dan mengembangkan warisan suara menjadi sebuah upaya menghidupkan warisan.

 

Link referensi :

Making PANJAGO | PGVIS

BEASTs of Wonderland | PGVIS

PGVIS | symposium

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*