Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • About
    • About the Project
    • Research Team
    • 2026 Fellowship
      • Juries
      • Research Fellows
  • Updates
  • Resources
  • Get Involved
  • Contact
  • Beranda
  • News
  • Pamedangan Karya Rani Jambak di Indonesian Women Artists #4

Pamedangan Karya Rani Jambak di Indonesian Women Artists #4

  • News, Press Release
  • 10 April 2026, 14.18
  • Oleh: moh.masruhan
  • 0

Jakarta, 9 April 2026 – Galeri Nasional Indonesia resmi membuka pameran Indonesian Women Artists #4: On the Map, yang berlangsung 10 April – 30 Juni 2026. Acara pembukaan dilakukan oleh Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan, bersama Inda Citraninda Noerhadi (Ketua Yayasan Cemara Enam). Pameran ini menghadirkan karya 12 perupa perempuan lintas generasi, termasuk karya terbaru Rani Jambak berjudul Pamedangan.

 

Pamedangan: Sulam, Suara, Video, dan Partisipasi Publik

Pamedangan adalah karya seni multimedia interaktif yang menggabungkan sulam tradisional Minangkabau dengan video dan komposisi audio. Karya ini tidak hanya menampilkan keindahan visual sulam, tetapi juga memperluas pengalaman estetika melalui dimensi suara, visual, dan partisipasi pengunjung.

Dalam instalasi ini, Rani menyusun empat pamedangan (alat menyulam tradisional Minangkabau) yang dapat digunakan pengunjung. Melalui perangkat ini, pengunjung diajak untuk ikut menyulam secara langsung, merasakan proses yang biasanya dilakukan perempuan Minangkabau, sekaligus mengalami sensasi auditif dari setiap sentuhan jarum dan benang. Kain tembaga yang digunakan terhubung dengan instrumen elektronik, sehingga setiap gerakan menyulam menghasilkan sinyal MIDI. Sinyal ini direkam, diolah, dan dipresentasikan sebagai komposisi audio yang menjadi bagian integral dari instalasi.

 

Respon Perempuan Minangkabau Modern terhadap Alam

Karya sulam pada instalasi ini merupakan respon perempuan Minangkabau modern terhadap alamnya. Rani menyulam motif Gunung Marapi, gunung berapi aktif yang kerap mengeluarkan abu vulkanik. Pengalaman ini adalah pengalaman pribadi Rani ketika tinggal di Lasi, Kabupaten Agam. Rasa asing, sedikit takut, namun penuh kekaguman atas kebesaran alam menjadi inspirasi utama dalam motif sulam yang ia hadirkan.

Dalam kata-kata Rani Jambak:

“Ketika mendengar ledakan dan melihat abu vulkanik Gunung Marapi yangbegitu tinggi, saya merasakan ketakutan sekaligus kekaguman. Menyulam gunung dan abu vulkaniknya ini adalah cara saya merespon alam, mengubah pengalaman personal menjadi karya kolektif yang bisa dirasakan bersama. Setiap tusukan jarum yang menghasilkan suara adalah dialog antara tubuh, tradisi, dan alam.”

 

Latar Historis dan Filosofis

Inspirasi karya ini berakar pada sejarah Rohana Kudus dan Rumah Kerajinan Amai Setia Koto Gadang (1915). Rumah kerajinan ini menjadi wadah bagi perempuan Minangkabau untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan menyulam, sekaligus memberdayakan diri melalui pendidikan dan ekonomi kreatif. Kehadiran Amai Setia turut mempopulerkan teknik sulam Suji Caia, yang kemudian menjadi identitas kuat dalam tradisi sulam Minangkabau.

Semangat kolektif Rohana Kudus dan teman-temannya dalam mendirikan Amai Setia juga beresonansi dalam pameran Indonesian Women Artists #4: On the Map. Bagaimana perempuan saling belajar, memberi ruang, dan bangkit bersama, menjadi nilai yang terus hidup dan relevan hingga kini.

Sulam Suji Caia, dengan motif bebungaan dan dedaunan, mencerminkan respon simbolik perempuan atas lingkungan sekitar. Tradisi ini diwariskan lintas generasi, dan melalui kolaborasi dengan penyulam tradisional Essy Hariya, Rani menghadirkan kesinambungan antara warisan budaya dan eksplorasi kontemporer. Motif yang digunakan Essy merupakan warisan ibunya dari tahun 1960-an, diperkaya dengan teknik Suji Caia dan Tarawang.

 

Makna Pamedangan

Pamedangan bukan sekadar karya seni, melainkan dialog antara tradisi, teknologi, dan alam. Ia menghidupkan kembali warisan budaya Minangkabau dalam konteks seni kontemporer, sekaligus menegaskan relevansi perempuan dalam sejarah dan masa kini. Dengan melibatkan pengunjung secara langsung, karya ini membuka ruang partisipatif yang mempertemukan pengalaman visual, auditori, dan kinestetik dalam satu instalasi.

 

Program Publik

Dalam program publik Indonesian Women Artists #4, ada banyak Art Talk, Lecture, penayangan film, diskusi publik, hingga pertunjukan. Rani Jambak dijadwalkan akan melakukan pertunjukan musik dengan Pamedangan di lokasi instalasinya, Ruang Pamer Gedung A Galeri Nasional Indonesia, pada 16 Mei 2026 pada jam 11.00 WIB.

 

Liputan Media

Metro Tv https://youtu.be/VrXrxQYqNNs?si=yz2uQiouUX17xjeD

RRI Voice of Indonesia https://youtube.com/shorts/PJVu8zWy4Ys?si=AUN98FZ7YnHMaYWU

Pameran Seni Indonesian Women Artist ke-4 Hadirkan Perpaduan Karya 12 Perupa

Pameran Indonesian Women Artists #4 di Galeri Nasional, Tampilkan Perupa Lintas Generasi

Indonesian Women Artists | What’s New Indonesia

Pameran IWA #4 Refleksikan Perjuangan Seniman Perempuan Indonesia – RRI.co.id

siaran-pers buka-pameran-indonesian-women-artist-ke- 4 -wamen-pppa-tegaskanpentingnya-affirmative-action-bagi-perempuan – kemenpppa-go

12 Karya Perupa ‘Mejeng’ di Pameran Indonesian Women Artist #4

Pameran Indonesian Women Artist #4: On The Map | tempo.co

Remapping the Role of Women Artists in IWA #4 “ON THE MAP” – Written

https://www.radarindonesianews.com/iwa-4-on-the-map-tampilkan-12-perupa-perempuandi-galeri-nasional/

https://www.radarindonesianews.com/iwa-4-on-the-map-tampilkan-12-perupa-perempuandi-galeri-nasional/


Author: Rani (Jambak) Fitriana

Photo Credit: Erly Noviana

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Recent Posts

  • Mamasak Asa: Membaca Marapi lewat Sulaman, Bunyi, dan Memori Kolektif Minangkabau
  • Pamedangan Karya Rani Jambak di Indonesian Women Artists #4
  • Voices of Mourning from Sumatra on the Global Stage: Rani Jambak’s Ecological Message at Inter.Sonix 06 Melbourne
  • Rani Jambak Kincia Aia Tour Canada: Ecological Critique and the Collective Spirit of Nusantara Heritage
  • Call for Applications: Re:Sound Fellowship Programme (2025)

Recent Comments

No comments to show.
Universitas Gadjah Mada

Restituting, Reconnecting,
Reimagining Sound Heritage

© 2025 Re:Sound

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY